Sunday, October 15, 2017

Kampung Poligami Sidoarjo Menyisakan Misteri

BANDARQ

Kampung Poligami Sidoarjo Menyisakan Misteri

Poligami tak lagi dilakukan oleh generasi muda 


BANDARQ - Seorang perempuan tampak sibuk membuat kopi dan mie instan di sebuah warung yang terletak tak jauh dari ujung jalan Wayo di Desa Kedung Banteng, Tanggulangi Sidoarjo. Sementara di teras dan halaman warung, anak-anak muda tampak duduk sambil menikmati kopi mereka.

Perempuan berusia 55 tahun, Nur Kotima sudah sepuluh tahun terahir berjualan kopi dan mie instan untuk menghidupi ketiga anaknya. Suaminya menika lagi dengan perempuan  tetangganya namun Nur tidak bercerai secara resmi melalui pengadilan agama.

"Sudah tidak tinggal serumah,"kata Nur,"biarkan saja buat apa dipikirkan".

Dia mengakui sempat marah ketika mengetahui suaminya menika lagi, tetapi lebi memilih untuk bangkit menghidupi dirinya dan anak-anaknya sampai mereka kemudian bekerja.

"kalau dipikirkan malah bikin jadi penyakit," kata Nur pada wartawan di Jawa Timur, Nur Cholis.

Setelah menikah suaminya tidak memberilkan nafkah lagi. Dalam UU Kekerasan Dalam Ruma Tangga KDRT, tidak memberikan nafkah pada istri merupakan salah bentuk kekerasan ekonomi.

Meski sudah berpisah sesekali suaminya bertandang ke rumanya untuk menemui anak-anak dan empat cucunya. Nur mengaku tidak terlalu memperdulikannya.

Saat ini, ketiga anknya menikah mudah, yang perempuan menikah setelah lulus SMP dan perempuannya yang laen menikah stelah lulus SMA.

Ketiganya sudah bekerja, sebagai penata rias pengantin, satpam dan buruh pabrik.Dia tak setujuh jika anaknya menikah dengan lebih satu orang.Selain dirinya Nur mengatakan banyak perempuan mengalami nasib sama ketika suami mereka berpoligami.

BANDARQ - Salah seoarang warga Mursidan mengatakan banyaknya warga yang berpoligami membuat kawasan ini dinamakan Jalan Wayo oleh warganya.

Dalam bahasa Indonesia Wahyo artinya bermadu atau berpoligami.

"Bahkan ada salah satu warga yang memiliki tiga istri sekali gus, orangnya kayak penjaga tambak tapi istrinya sampai tiga,"tutur Mursidan.

Menurut Mursidan kebanyakan pernikahan poligami dilakukan secara sirih tapi praktik itu kini mulai sedikit menurun,namun Tohirin mengatakan praktik poligami suda tidak dilakukan oleh generasi yang mudah laki-laki dan perempuan sudah mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi

"Klau sekarang kebiasaan itu suda tidak ada lagi hanya namanya saja yang tetap Wayoh,:kata dia.

Nama jalan yang tidak berubah itu dan banyak yang mendugah kawasan ini menyediakan layanan nikah sirih.Berapa kali Tohirin kedatangan tamu tentang nikah sirih itu.

No comments:

Post a Comment